LIPI CIBINONG


LIPI CIBINONG

MEMILIKI lahan seluas 193,194 hektar di desa Cibinong, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) akan menjadikan daerah itu sebagai Science Center (Pusat Ilmu Pengetahuan). Bila upaya LIPI kelak terwujud, maka kota yang berjarak 46 kilometer dari Jakarta itu akan menjadi Science City (Kota Ilmu Pengetahuan).
Mulai tahun ini hingga tahun 2008, dengan bantuan dana hibah antara lain dari Jepang (JICA) 2,172 miliar yen, di kawasan itu akan dijadikan Pusat Herbarium yang di antaranya akan menampung koleksi dari Herbarium Bogoriensis. Sedangkan lokasi serupa di Bogor itu nantinya akan ditutup. Selain itu dengan bantuan Jepang juga akan didirikan Asia Pasific Ekohidrologi Center.
“Berbeda dengan kawasan Puspiptek Serpong yang lebih berorientasi pada hard science dan teknologi terapan, Cibinong Science Center (CSC) diarahkan sebagai kawasan pengembangan ilmu pengetahuan terutama untuk bidang soft atau ilmu hayati (life science),” demikian diuraikan Kepala LIPI, Prof Umar A Jenie.
Oleh karena itu di CSC juga akan dibangun International Center for Astronesia Prehistoric Studies, yang melibatkan sebuah konsorsium dan di bawah pengawasan UNESCO. Dalam hal ini Indonesia merupakan salah satu pusat dari bidang tersebut di samping Polandia di Benua Eropa dan Argentina di Amerika Latin.
Pengembangan ilmu hayati di LIPI menurut Umar merupakan jawaban atas tantangan zaman. Bioteknologi diyakini merupakan bidang ilmu yang memiliki prospek masa depan cerah. Hal ini memunculkan perusahaan yang mengkhususkan pada produksi obat-obatan atau berbasis DNA, produksi makanan sehat, dan teknik membangun lingkungan berkelanjutan.
Oleh karena itu dalam beberapa dekade terakhir lahir industri raksasa baru yang menerapkan kelompok ilmu yang terkait dengan ilmu hayati. Produk mereka antara lain berupa bibit unggul untuk memenuhi kebutuhan penduduk dunia akan pangan.
Dalam hal ini LIPI, menggelar dua program utama yaitu keanekaragaman hayati serta riset industri untuk diversifikasi dan peningkatan nilai tambah bahan alam Indonesia.
Pengembangan kawasan
Sebelum tahap pembangunan saat ini, sejak pemberian hak pakai pada tahun 1968, lahan di daerah itu sempat lama terbengkalai karena kendala terbatasnya dana. Sejak dimulai akhir tahun 1980-an, hingga kini baru 30 persen areal yang telah terbangun.
Ketika Pemerintah Jepang melalui JICA memberi dana hibah, Puslit Biologi mulai membangun Widya Satwa Loka sebagai Museum Zoologi. Tahun 1997 didirikan gedung mikrobiologi, namun pembangunannya baru terlaksana sebagian dengan kualitas yang belum memenuhi syarat sebagai laboratorium. Sampai saat ini bangunan tersebut belum selesai. Rencananya gedung tersebut akan dimanfaatkan oleh UPT Biomaterial. Selain Museum Zoologi dengan dana JICA, akan dibangun pula gedung Botani dan Mikrobiologi.
Pembangunan Pusat Ilmu Pengetahuan itu mengacu pada Master Plan Life Science Center-kini diubah menjadi Cibinong Science Center-digali dari konsep tahun 1964 dan penyempurnaan Master Plan Puspiptek Cibinong 1987. Pembangunannya direncanakan selesai tahun 2010.
Meskipun master plan sudah ada sejak lama, tanah luas yang dikelilingi permukiman penduduk yang kemudian terbengkalai itu, mendorong masyarakat setempat memanfaatkannya untuk bertanam jagung dan singkong. Bahkan sebagian dari mereka mengaku berhak atas lahan tersebut.
Awalnya lahan di daerah itu memang milik masyarakat setempat, kemudian dibebaskan pemerintah. Proses pembebasannya berlangsung selama empat tahun hingga tahun 1968. LIPI kemudian mendapat Hak Pakai berdasarkan Keputusan Mendagri No 70 Tahun 1968.
Untuk mendorong pengelolaan dan percepatan pembangunannya, Kepala LIPI segera membentuk Badan Otorita kawasan Ilmu Hayat LIPI Cibinong, berdasarkan SK Kepala LIPI No 2002 Tahun 2001.
Kawasan konservasi
Pembangunan CSC dilaksanakan dengan pendekatan integratif. Selain fasilitas bangunan fisik berupa laboratorium, kawasan ini akan didominasi oleh tumbuhan langka dari seluruh Indonesia, yang menjadi inti zona hijau dan selanjutnya menjadi inti dari Cibinong sebagai kota hijau.
Penanaman pohon yang dilakukan jajaran pimpinan LIPI di Cibinong Science Center, Kamis (22/7) pada bakti sosial menyambut HUT Ke-37 LIPI, merupakan bagian dari pembentukan daerah konservasi eks situ berupa Kebun Ekologi.
Daerah konservasi seluar 7 hektar itu akan ditanami berbagai tumbuhan langka. Ada 54 pohon ditanam pada acara bakti sosial, antara lain tumbuhan langka dari Kaltim Eusideroxylon zwageri dan Dillenia pentagina, spesies tumbuhan dari Papua Instia palembanica dan Calophylum soulatri Papua, Diospyros lanceaefolia, Alstonia scholaris, dan Adenanthera pavonina.
Menurut Umar, idealnya setiap daerah atau provinsi memiliki minimal satu kawasan konservasi. Upaya ini telah dirintis di Jawa Tengah dengan berdirinya kebon raya Batu Raden Banyumas, di Jambi dan Kebon Raya di Sumatera Barat yang didirikan oleh Universitas Andalas Padang.
Saat ini LIPI sendiri telah mengelola empat Kebun Raya yaitu di Bogor, Cibodas, Purwodadi, dan Bali. “Dalam pembangunan kawasan konservasi terutama kebun raya, LIPI akan membantu dari segi penyediaan tenaga ahli dan koleksi tumbuhan ex situ,” lanjut Umar.

Published in: on August 15, 2009 at 2:40 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://dickymuhammad09.wordpress.com/2009/08/15/lipi-cibinong/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: